TarunaKota.com, Timika – Satuan Tugas (Satgas) TNI Koops Habema secara tegas membantah tudingan yang menyebutkan personelnya sebagai pelaku penembakan di Distrik Tembagapura yang menewaskan seorang remaja berinisial NW dan melukai enam warga lainnya. Letkol Inf Wirya Arthadiguna, Kepala Penerangan TNI Koops Habema, menyatakan bahwa informasi yang menyudutkan TNI tersebut tidak benar. Ia menegaskan bahwa pihak TNI justru hadir untuk memberikan pertolongan pertama dengan melakukan proses evakuasi terhadap para korban ke rumah sakit sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada pihak keluarga.
Letkol Wirya menjelaskan bahwa sesaat sebelum insiden terjadi, Satgas TNI Rajawali-Habema memang tengah melaksanakan kegiatan aklimatisasi medan atau latihan adaptasi lingkungan di kawasan tersebut. Namun, wilayah yang berada di antara Mile 69 hingga Mile 71 itu diketahui memiliki Target Operasi (TO) yang diduga merupakan anggota kelompok OPM. Pihak TNI menduga gerakan mereka bocor sehingga kelompok bersenjata tersebut melakukan gangguan keamanan di tengah aktivitas latihan aparat.
Lebih lanjut, Wirya menuding kelompok OPM sengaja menjadikan masyarakat sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan para pendulang, sebagai tameng hidup untuk menghindari penindakan dari aparat keamanan. Menurutnya, pola menjadikan warga sebagai tameng merupakan strategi yang kerap digunakan kelompok tersebut di wilayah-wilayah rawan konflik. Hal ini pulalah yang diduga menyebabkan jatuhnya korban jiwa di zona konsesi PT Freeport Indonesia yang merupakan area terbuka dengan medan tebing dan jurang bekas tambang.
Di sisi lain, suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga korban di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama. Pendeta Anton Wamang, ayah dari almarhum NW, meminta agar kasus penembakan ini diungkap secara transparan dan jujur oleh otoritas terkait. Meski pihak aparat telah mendatangi rumah duka untuk menyampaikan permohonan maaf dan belasungkawa, Anton menegaskan bahwa keluarga hanya menginginkan kejelasan mengenai siapa pihak yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas nyawa anaknya.
Keluarga korban juga meminta agar insiden tragis ini tidak dijadikan ajang saling tuduh antara pihak TNI maupun TPNPB-OPM. Mereka mendesak adanya keterbukaan informasi agar fakta di lapangan dapat terungkap tanpa ada yang ditutup-tupi. Hingga saat ini, situasi di area pendulangan Mile 69-74 masih dalam pengawasan ketat aparat gabungan guna mengantisipasi gangguan susulan, sementara penyelidikan mengenai pelaku penembakan masih terus bergulir di bawah koordinasi pihak berwenang.

Tinggalkan Balasan