TarunaKota, Medan – Sebuah kisah memilukan menimpa Fitra Nur Malasari (24), seorang Ibu Rumah Tangga asal Jambi yang harus merelakan kepergian buah hatinya di perantauan. Bayi yang dilahirkannya secara prematur empat bulan lalu, dinyatakan meninggal dunia akibat gangguan pencernaan setelah menjalani perawatan intensif di Kota Medan, Senin (8/2/2026).
Perjuangan Malasari di Medan selama empat bulan terakhir dilalui dengan penuh keterbatasan. Ia menetap di rumah sakit demi mendampingi sang anak yang menjalani pengobatan secara estafet, mulai dari RS Bunda Thamrin hingga dirujuk ke RSUP H. Adam Malik.
Berjuang Sendirian di Perantauan
Relawan bernama Ale, yang mendampingi Malasari, menceritakan bahwa selama di Medan, ibu muda ini hanya seorang diri karena suaminya harus bekerja di Aceh untuk mencari nafkah.
“Anaknya ini 4 bulanlah di Kota Medan dalam keadaan sakit. Awalnya di RS Bunda Thamrin, setelah itu dirujuk ke Adam Malik. Selama 4 bulan itu, ibunya sendiri yang menjaga anaknya di Medan, karena suami bekerja di Aceh,” kata Ale, Rabu (11/2/2026).
Meski biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS, Malasari menghadapi kesulitan besar untuk biaya hidup sehari-hari. Bahkan, musibah memuncak saat sang buah hati mengembuskan napas terakhir. Ia tak memiliki biaya untuk mengurus jenazah, apalagi membawa pulang jenazah sang anak ke tanah kelahiran di Jambi.
Aksi Solidaritas Relawan dan Masyarakat Medan
Kondisi Malasari yang tak memiliki sepeser uang pun untuk biaya pemakaman membuat para relawan, termasuk komunitas ojek online di Medan, bergerak cepat.
“Dia bilang untuk pulang ke Jambi membawa jenazah anaknya seharga jutaan, dia tak punya uang. Bahkan untuk biaya makam anaknya juga tidak ada,” tutur Ale.
Melihat kondisi tersebut, Ale dan rekan-rekannya membuka donasi dan mengunggah video Malasari hingga viral di media sosial. Upaya ini membuahkan hasil setelah bantuan mulai mengalir, termasuk dari anggota dewan setempat yang turut meringankan beban tersebut.
Pemakaman di Jalan Halat
Setelah melalui proses yang panjang dan penuh haru, dana yang terkumpul akhirnya cukup untuk membiayai prosesi pemakaman. Atas izin sang suami melalui sambungan telepon, diputuskan bahwa bayi malang tersebut dimakamkan di Medan.
“Senin sore jenazah sudah dikafani. Akhirnya ada anggota dewan yang membantu kami. Malam itu juga (Senin) kami memutuskan untuk mengubur bayi berumur 4 bulan itu di perkuburan Jalan Halat,” pungkas Ale.
Kisah Malasari menjadi potret nyata solidaritas warga Medan yang bahu-membahu menolong sesama di tengah duka mendalam seorang ibu yang harus pulang ke Jambi dengan tangan hampa, meninggalkan sang anak yang kini telah beristirahat tenang di Bumi Melayu Deli.

Tinggalkan Balasan