TarunaKota, Jambi, 17 Februari 2026 – Upaya pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menetapkan awal bulan suci Ramadhan 1447 H telah dilaksanakan oleh Tim Falakiyah Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jambi. Berdasarkan hasil observasi yang berpusat di Gedung Mahligai Bank 9 Jambi, Selasa (17/2/2026), hilal dilaporkan tidak berhasil terdeteksi di wilayah ini.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jambi, Mahbub Daryanto, melalui laporan resmi tim falakiyah mengungkapkan bahwa secara teknis posisi hilal saat matahari terbenam berada pada ketinggian -1° 04′ 02”. Kondisi ini berada di bawah kriteria Neo MABIMS yang menetapkan ambang batas ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Faktor Teknis dan Keputusan Istikmal

Meskipun pemantauan dilakukan secara intensif mulai pukul 16.00 hingga 19.00 WIB, posisi bulan secara hisab di Provinsi Jambi memang belum wujud. Hal inilah yang menjadi alasan utama hilal tidak dapat teramati meski cuaca dipantau maksimal pada pukul 18.24 WIB.

Terkait hasil tersebut, Mahbub Daryanto memberikan pernyataan resmi:

“Karena hilal belum wujud dan tidak terlihat, maka bulan Sya’ban akan diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Ramadhan 1447 H diprediksi akan jatuh pada hari Kamis, 19 Maret 2026,” katanya.

MUI Jambi Serukan Ukhuwah

Seirama dengan hasil pantauan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi turut memberikan respons melalui siaran pers. MUI mengimbau umat Muslim agar tetap tenang dan mengedepankan persaudaraan (ukhuwah) jika nantinya muncul perbedaan dalam memulai awal puasa.

Pihak MUI menegaskan bahwa keragaman metode antara hisab dan rukyat adalah bagian dari khazanah Islam yang lumrah dan harus diterima sebagai rahmat. Masyarakat pun diminta untuk tetap menjaga adab dan tidak saling menghakimi terkait perbedaan penentuan hari pertama ibadah puasa.