TarunaKota.com, Intan Jaya – Sebuah insiden ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak jenis granat mengguncang halaman Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni Mbamago, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Minggu (17/5/2026). Peristiwa tersebut terjadi pada pagi hari saat masyarakat masih berkumpul di sekitar area rumah ibadah usai mengikuti misa Minggu pagi. Berdasarkan informasi awal di lapangan, bahan peledak tersebut diduga kuat dijatuhkan menggunakan wahana terbang tanpa awak atau drone yang dikendalikan dari jarak jauh oleh pihak yang belum dikenal.

Ledakan yang terjadi secara mendadak itu seketika memicu kepanikan luar biasa di kalangan jemaat dan mengakibatkan empat orang warga sipil mengalami luka-luka akibat terkena serpihan ledakan. Para korban langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan penanganan medis secara intensif. Berdasarkan data yang dihimpun, keempat korban yang telah berhasil teridentifikasi tersebut masing-masing bernama Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau. Insiden ini juga memicu trauma mendalam bagi warga lokal, hingga sebagian di antaranya dilaporkan memilih melarikan diri ke kawasan hutan dan sebagian lainnya mengungsi ke wilayah Sugapa untuk mencari perlindungan.

Merespons peristiwa berdarah tersebut, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara tegas membantah keterlibatan mereka sebagai aktor di balik pengeboman itu. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa tim gabungan saat ini tengah diturunkan ke lapangan untuk melakukan pendalaman materiil dan verifikasi secara menyeluruh. Berdasarkan pemeriksaan awal, jenis granat yang ditemukan di lokasi kejadian memiliki karakteristik yang sangat berbeda dan tidak sesuai dengan standar kelengkapan persenjataan resmi yang digunakan oleh institusi TNI.

Letkol Inf M Wirya Arthadiguna menambahkan bahwa TNI tidak pernah menggunakan fasilitas drone bersenjata untuk melakukan serangan terhadap warga sipil, terlebih di kawasan tempat ibadah yang sakral. Pihaknya menduga kuat bahwa insiden pemanfataan teknologi ini sengaja dirancang sebagai bentuk aksi provokasi terstruktur oleh pihak-pihak tertentu yang berniat memecah belah hubungan harmonis antara TNI dengan masyarakat Papua. Pihak TNI mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dan media untuk tidak menyebarkan spekulasi atau informasi yang belum terverifikasi agar tidak memperkeruh situasi keamanan di Intan Jaya.

Hingga saat ini, aparat keamanan terus mengintensifkan patroli pengamanan secara berkala di sekitar lokasi kejadian guna mengantisipasi adanya pergerakan susulan dan memulihkan psikologis warga. Koops TNI Habema juga mengonfirmasi telah membuka jalur komunikasi dan koordinasi dengan pengurus pihak gereja serta tokoh masyarakat setempat. Langkah sinergis ini diambil untuk memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan serta pemulihan yang diperlukan bagi para korban luka maupun jemaat yang terdampak dapat berjalan secara cepat dan merata.