Tarunakota, Sumenep– Kreativitas anak muda dalam memanfaatkan peluang bisnis di lahan terbatas ditunjukkan oleh Faza Nur Imam (20), seorang pemuda asal Desa Kolor, Kabupaten Sumenep. Mahasiswa semester empat Program Studi Agribisnis Universitas Wiraraja ini sukses menyulap bekas kandang kuda berukuran 6×4 meter menjadi instalasi budidaya selada hidroponik yang produktif. Dari lahan yang sederhana tersebut, Faza mampu meraup pendapatan kotor hingga Rp 4,3 juta dalam sekali panen dengan sistem tanam yang ia kembangkan sendiri.

Keberhasilan yang diraih alumni SMAN 2 Sumenep ini tidak didapatkan secara instan. Faza mengaku harus melewati fase uji coba yang melelahkan dengan empat kali kegagalan sebelum akhirnya menemukan formula yang tepat. Masalah mulai dari penggunaan pupuk yang tidak cocok hingga serangan penyakit sempat membuat tanamannya menguning dan mati. “Saat masih penelitian, sekitar empat kali gagal. Awalnya karena masih uji coba pupuk dan air. Terakhir gagal karena penyakit,” ungkap Faza saat berbagi kisahnya, Minggu (12/4/2026).

Berbeda dengan budidaya hidroponik pada umumnya yang menggunakan greenhouse, Faza justru memberanikan diri mencoba menanam di ruang terbuka untuk menguji tantangannya. Ia juga melakukan riset mandiri terkait sumber air, di mana ia sempat menggunakan air AC sebelum akhirnya beralih ke air sumur yang lebih stabil. Fokus pada tanaman selada, satu siklus tanam hingga panen yang dijalani Faza membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menghasilkan kualitas sayuran yang layak jual.

Secara ekonomi, usaha ini tergolong sangat menjanjikan dengan biaya produksi yang relatif rendah. Dalam sekali panen, Faza mampu menghasilkan sekitar 125 kilogram selada yang dijual dengan harga Rp 35.000 per kilogram. Dengan modal produksi hanya sekitar Rp 600.000—mencakup bibit, pupuk racikan sendiri, dan listrik—ia bisa mengantongi keuntungan bersih yang cukup besar. Strategi meracik pupuk sendiri sengaja dilakukan Faza untuk menekan biaya operasional sekaligus memperdalam ilmu takaran nutrisi tanaman.

Tantangan keterbatasan lahan dan minimnya sinar matahari di kawasan perkotaan terbukti bukan menjadi penghalang bagi Faza untuk tetap produktif. Melalui inovasi ini, ia berharap bisa memotivasi generasi muda lainnya agar tidak ragu terjun ke dunia pertanian modern meski hanya memiliki lahan sempit. Baginya, kunci utama dalam bertani hidroponik adalah ketekunan dalam melakukan riset dan keberanian untuk terus mencoba meskipun menghadapi kegagalan di tahap awal.