TARUNAKOTA, TANGERANG – Gelombang kecaman dan desakan dari berbagai tokoh tinggi negara terus mengalir pasca gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon Selatan. Presiden Prabowo Subianto secara tegas mengecam tindakan keji yang merenggut nyawa para prajurit terbaik bangsa tersebut. Melalui pernyataan resminya pada Senin (06/04/2026), Presiden menekankan bahwa pengorbanan para pahlawan perdamaian ini tidak akan pernah dilupakan dan negara berkomitmen penuh untuk menjaga kehormatan serta keselamatan prajurit di kancah internasional.

Desakan serupa juga disuarakan dengan lantang oleh Menteri Luar Negeri Sugiono saat menghadiri upacara penjemputan jenazah di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu malam. Menlu menuntut PBB untuk segera melakukan investigasi menyeluruh dan transparan atas serangan artileri dan ledakan yang menghantam konvoi pasukan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa personel UNIFIL memiliki mandat sebagai penjaga perdamaian (peacekeeping), bukan pembuat perdamaian (peacemaking), sehingga keberadaan mereka di zona konflik seharusnya dilindungi sepenuhnya oleh hukum internasional tanpa pengecualian.

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut memberikan pandangan mendalam mengingat pengalamannya sebagai Kepala Pengamat Militer PBB di Bosnia masa silam. SBY menegaskan bahwa Indonesia memiliki hak mutlak untuk mendapatkan penjelasan yang masuk akal dari PBB terkait rentetan insiden beruntun ini. Menurutnya, wilayah Lebanon Selatan kini telah bergeser menjadi zona perang aktif (war zone) yang sangat dinamis, sehingga PBB melalui UNIFIL harus bertanggung jawab penuh atas kegagalan perlindungan terhadap personel peacekeeper yang bertugas di sana.

Kementerian Luar Negeri RI juga telah membawa isu krusial ini ke meja Dewan Keamanan PBB di New York guna menuntut akuntabilitas dari pihak-pihak yang bertanggung jawab. Kemenlu menekankan bahwa keselamatan personel pasukan perdamaian adalah hal yang tidak dapat ditawar-tawar. Selain menuntut pengusutan fakta dan kronologi kejadian, Indonesia juga mendesak dilakukannya tinjauan ulang terhadap protokol keamanan di lapangan, mengingat dalam kurun waktu satu minggu saja, tercatat tiga prajurit gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka akibat eskalasi konflik di perbatasan.

Suasana haru menyelimuti tanah air saat peti jenazah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan tiba di tanah air dengan balutan bendera Merah Putih. Penghormatan terakhir yang diberikan langsung oleh Presiden Prabowo dan jajaran menteri kabinet menjadi simbol duka nasional sekaligus ketegasan diplomasi Indonesia. Meski ketiga prajurit telah dianugerahi medali anumerta oleh PBB, pemerintah Indonesia tetap bersikukuh bahwa keadilan hanya akan tegak jika ada hasil investigasi yang konkret dan jaminan keamanan yang lebih kuat bagi sisa pasukan yang masih bertahan di Lebanon.