Tarunakota, 16 Maret 2026, Jakarta – SETARA Institute mengeluarkan pernyataan sikap keras mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk segera mengungkap tuntas pelaku hingga aktor intelektual di balik serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Insiden ini dinilai sebagai ancaman nyata bagi ruang kebebasan sipil di Indonesia.

Peneliti HAM dan Sektor Keamanan SETARA Institute, Ikhsan Yosarie, menegaskan bahwa kepolisian harus melakukan penyelidikan yang cepat, independen, dan transparan. Menurutnya, akuntabilitas dalam perkara ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di tanah air.

“SETARA Institute menyerukan solidaritas luas dari masyarakat sipil, akademisi, media, dan publik untuk mengawal kasus ini. Kita harus memastikan ruang kebebasan sipil tidak dirusak oleh praktik kekerasan dan intimidasi,” ujar Ikhsan dalam keterangan resminya, Minggu (15/03/2026).

Lebih lanjut, Ikhsan menilai peristiwa ini bukan sekadar serangan fisik terhadap individu, melainkan upaya pembungkaman terhadap kritik publik melalui efek ketakutan (chilling effect). Jika kasus ini tidak ditangani dengan tegas, hal tersebut akan menjadi preseden buruk yang menunjukkan bahwa menyuarakan keadilan memiliki risiko keselamatan yang serius.

SETARA Institute juga menekankan bahwa kerja-kerja pembela HAM seperti yang dilakukan Andrie Yunus adalah kerja patriotik yang memastikan adanya check and balances terhadap kekuasaan. Oleh karena itu, peristiwa ini harus menjadi alarm bagi negara untuk memperkuat mekanisme perlindungan terhadap pembela HAM agar rasa aman bagi aktor masyarakat sipil tetap terjamin dalam menjalankan fungsi advokasinya.