Tarunakota, Jambi– TNI Angkatan Udara (AU) tengah mempercepat proses penambahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa radar dan satuan radar (satrad) guna memperketat penjagaan wilayah udara Indonesia. Langkah strategis ini diambil untuk menutup titik-titik kosong atau blind spot yang selama ini belum terjangkau oleh pantauan radar eksisting. Untuk menyambut alutsista baru ini, TNI AU mulai menyiapkan infrastruktur pendukung dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) agar operasional radar berjalan optimal saat tiba di tanah air.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal M. Tonny Harjono mengungkapkan bahwa pengadaan 25 radar baru ini merupakan program dari Kementerian Pertahanan (Kemhan). Saat ini, TNI AU mengoperasikan 20 satuan radar yang tersebar di berbagai wilayah, namun sebagian di antaranya dinilai sudah berusia cukup tua. ”Jadi, betul Angkatan Udara sedang berproses. Kami menyiapkan infrastruktur yang tadi saya sampaikan. Kami akan mendapatkan 25 radar baru, karena kita ketahui bahwa radar yang kami miliki saat ini ada 20 satrad, sudah usang tetapi masih berfungsi dengan baik,” ujar Marsekal Tonny usai Upacara Peringatan HUT ke-80 TNI AU, Kamis (9/4/2026).

Marsekal Tonny mengakui bahwa tantangan utama saat ini adalah keberadaan wilayah udara yang belum terpantau sepenuhnya oleh radar. Dengan adanya tambahan 25 radar tersebut, TNI AU berencana membentuk 10 satuan radar baru yang akan ditempatkan secara fokus di area-area kritis tersebut. ”Masalahnya adalah ada beberapa wilayah yang tidak tercover oleh radar, sehingga kami bilang blind spot. Nah, untuk ke depannya kami menempatkan radar-radar baru itu di tempat yang saat ini menjadi blind spot. Sehingga ke depan dengan penambahan 25 radar, seluruh Indonesia akan tercover oleh radar,” tegasnya.

Program ambisius ini ditargetkan akan rampung secara menyeluruh pada tahun 2029 mendatang. Jika semua radar telah terpasang sesuai jadwal, maka Indonesia akan diperkuat oleh total 30 satuan radar yang saling terintegrasi tanpa menyisakan celah di wilayah udara kedaulatan NKRI. ”Ini berproses. Insya Allah tahun 2029 semua sudah terinstal sesuai rencana. Semua nantinya akan ada 30 satrad, sekarang 20 satrad,” jelas KSAU merinci target jangka panjang pengamanan udara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, KSAU turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas dukungan penuh terhadap penguatan pertahanan udara. Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap pengadaan pesawat tempur, pesawat angkut, hingga sistem radar sangat vital bagi keberhasilan operasi udara TNI AU ke depan. Dukungan ini dinilai sebagai suntikan moral bagi prajurit matra udara untuk tetap siaga menjaga kedaulatan negara dari berbagai potensi ancaman luar.