TarunaKota, Morowali – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 2026, pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kelurahan Matano, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mulai membangkitkan tradisi leluhur. Mereka bergotong royong mendirikan Dengu-dengu, sebuah menara tradisional yang digunakan khusus untuk membangunkan warga saat waktu sahur tiba.
Dengu-dengu bukan sekadar bangunan kayu biasa; menara setinggi 5 hingga 20 meter ini merupakan warisan budaya Suku Tobungku yang telah eksis sejak masa Kerajaan Bungku.
Simbol Solidaritas Pemuda
Proses pembangunan menara ini dilakukan secara komunal. Para pemuda turun langsung mulai dari mencari bambu ke hutan hingga tahap perakitan menara di titik-titik strategis kelurahan.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Matano, Faturrahman, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah agenda tahunan yang wajib dijaga agar identitas lokal tidak tergerus zaman.
“Tradisi Dengu-dengu ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Matano. Kami sebagai generasi muda merasa memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikannya,” ujar Faturrahman, Rabu (4/2/2026).
Ia menambahkan bahwa selain bernilai religius, proses pendirian menara ini merupakan sarana mempererat solidaritas dan semangat gotong royong antar pemuda.
Warisan Sejarah Kerajaan Bungku
Secara historis, Dengu-dengu pada masa kerajaan difungsikan sebagai alat komunikasi antarwilayah. Namun kini, menara yang terbuat dari bambu, papan, dan beratap rumbia ini beralih fungsi menjadi pusat komando sahur selama satu bulan penuh.
Menara-menara ini biasanya didirikan di hampir setiap RT, terutama di dekat masjid, agar suara dari atas menara dapat menjangkau seluruh permukiman warga. Dengan konstruksi bambu yang menjulang tinggi, Dengu-dengu menjadi pemandangan ikonik yang menandai kemeriahan Ramadan di Bumi Tepe Asa Moroso.
Hingga saat ini, masyarakat Suku Tobungku terus merawat kearifan lokal ini, menjadikannya bagian integral dari suasana religius dan budaya di wilayah Kabupaten Morowali.

Tinggalkan Balasan