TarunaKota, Jakarta – Tabir gelap kasus perdagangan anak kandung terungkap di wilayah Tamansari, Jakarta Barat. Seorang ibu berinisial IJ tega menjual darah dagingnya sendiri, RZ, yang masih berusia balita melalui jaringan perdagangan manusia antarprovinsi. Korban ditemukan berada di wilayah Suku Anak Dalam, Jambi, setelah berpindah tangan hingga tiga kali transaksi.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah menetapkan 10 orang tersangka dalam jaringan ini. Para pelaku kini telah mendekam di Rutan Polres Metro Jakarta Barat.
“Dari upaya penyidikan yang dilakukan, penyidik telah menetapkan 10 orang tersangka,” kata Iman di Polda Metro Jaya, Jumat (6/2/2026).
Kronologi: Berawal dari Modus Mengajak Bermain
Kasus ini mulai terkuak setelah korban dilaporkan menghilang sejak 31 Oktober 2025. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Arfan Zulkan Sipayung, menjelaskan bahwa IJ awalnya menjemput RZ dari rumah tantenya, CN, dengan dalih ingin mengajak sang anak bermain.
Namun, hingga akhir November, korban tak kunjung dipulangkan. Kecurigaan keluarga memuncak saat ayah korban, AH, mengabarkan kepada CN bahwa IJ tiba-tiba memiliki uang dalam jumlah besar. Setelah didesak dan dibawa ke Polsek Tamansari, IJ akhirnya mengakui perbuatan kejinya.
Rantai Perdagangan: Harga Melonjak di Tiap Transaksi
Polisi mengungkap fakta mengejutkan mengenai rantai penjualan korban. RZ dijual berkali-kali dengan nilai yang terus meroket di setiap tingkatan makelar:
- Transaksi Pertama: IJ menjual RZ kepada tersangka WN senilai Rp17,5 juta.
- Transaksi Kedua: WN menjual korban kepada tersangka EM seharga Rp35 juta.
- Transaksi Ketiga: EM menjual RZ kepada tersangka LN senilai Rp85 juta.
Tersangka LN diketahui berperan sebagai perantara yang menyalurkan anak-anak tersebut ke wilayah suku pedalaman di Jambi.
Penyelamatan Korban Lain Tanpa Identitas
Dalam operasi penyelamatan di Jambi, petugas tidak hanya menemukan RZ. Polisi juga berhasil mengamankan tiga anak lainnya yang tidak memiliki identitas. Diduga kuat, mereka juga merupakan korban dari jaringan perdagangan anak yang sama.
“Petugas berhasil menemukan anak korban RZ, berikut dengan tiga orang anak lainnya tanpa identitas dalam upaya penyelamatan tersebut,” ungkap AKBP Arfan.
Saat ini, pihak kepolisian masih mendalami kemungkinan adanya korban lain serta menyelidiki lebih lanjut keterlibatan oknum lain dalam sindikat perdagangan anak antar-pulau ini.

Tinggalkan Balasan